RESUME BELAJAR MENULIS PERTEMUAN KE-7
RESUME
BELAJAR MENULIS PERTEMUAN KE-7
HARI
: RABU, 28 OKTOBER 2020
WAKTU : 19.00-21.00 WIB
MODERATOR : IBU AAM NURHASANAH
NARASUMBER : IBU BETTI RISNALENNI
WANITA
MILENIAL YANG MULTI TALENTA
Malam ini, Rabu tanggal
28 Oktober 2020, tepatnya pukul : 19.06. Seperti biasa kegiatan belajar menulis
dibuka oleh moderator. Moderator kita malam ini adalah Ibu Aam Nurhasanah.
Kegiatan belajar
menulis malam ini merupakan pertemuan yang ketujuh (7). Dipertemuan menulis
yang ketujuh ini, kedatangan seorang narasumber yang sangat hebat dan luar
biasa sepak terjangnya. Sehingga sangat memotivasi dan sangat menginspirasi
bagi kita semua.
Selain berprofesi sebagai seorang guru,
narasumber juga berprofesi sebagai penulis, pengusaha sukses (berwirausaha mengelola
cafe) dan aktif di kegiatan UMKM. Beliau bernama Ibu Betti Risnalenni. Di dalam
kegiatan belajar menulis malam ini beliau akan berbagi pengalamannya kepada
kita semua.
Sebenarnya narasumber
merasa tidak enak berbagi di kelas menulis ini, karena beliau menganggap di grup
kelas menulis ini banyak orang hebat dan berprofesi penulis. Karena beliau
berasumsi “Saya bukan penulis tapi
pernah menulis”. Pada kesempatan ini narasumber akan bercerita pengalamannya
dari jadi guru sampai punya usaha.
Menurut beliau banyak
guru yang sudah melakukan itu juga. “Ya hanya sharing aja ya”, kata beliau.
Beliau lebih suka tanya jawab dalam kegiatan pembelajaran ini. Sampai sekarang
beliau masih mengajar, walau hanya sedikit jam.
Walaupun hanya sedikit
jam mengajar, menurutnya juga cukup menguras pikiran. Karena zaman pandemi
seperti sekarang ini guru harus lebih kreatif dalam mengajar.
Menurut narasumber kita
sebagai guru mempunyai peluang besar untuk menjadi pengusaha, karena kita
mempunyai pangsa pasar yang banyak. Mulai dari murid, orang tua murid, teman
seprofesi dan yang lainnya. Beliau
berkata, “ Saya sih sebenarnya juga pedagang-pedagang amat”.
Cuma kalau ada
kesempatan kepala saya sering mutar, kira-kira kalau jualan, apa ya yang akan
dibeli orang atau diperlukan orang”? Kata beliau. “Saya kalau berjualan juga
tidak selalu laku, tapi saya senang aja”. Kalau dalam ilmu jualan itu tidak boleh, ini baru beliau ketahui
setelah ia belajar lewat pelatihan UMKM.
Narasumber mengobrol
tentang pengalamannya dari menjadi guru sampai menjadi punya usaha. Ia
beranggapan walau tidak berarti hebat di wirausaha. Justru kalau secara ilmu
baru ia dapatkan, tapi kalau secara praktis sudah beliau jalankan.
Beliau memulai berjualan
itu sejak ia membuat kursus. Itu jualan juga kan? Jualan materi, kata beliau. Awalnya ia membuat kursus aritmatika
tahun 1996. Kemudian ia menulis buku aritmatika dan menjualnya sendiri dengan
mengadakan pelatihan-pelatihan.
Itu beliau mulai pada
tahun 1998. Beliau memiiki 24 cabang untuk daerah Bekasi saja. Belum termasuk luar
daerah. Dan pada tahun 2003 beliau mulai mendirikan sekolah TK dan TPQ. Pada
tahun 2004 mulai dengan SD. Itu juga usaha, walau itu bukan profit yang beliau
tujukan. Porfit dengan serta merta ikut serta. Ahamdulliah sampai saat ini sekolah
masih eksis. Beliau minta doanya semoga lancar terus.
Karena usia jualah,
maka beliau mulai mengurangi kegiatan di sekolah dan mulai membuka kedai di
samping rumah. Dan karena musibah pandemi covid-19 ini, kini usaha yang baru
dirintis juga mengalami kemacetan yang sangat berdampak.
Dan syukurnya, alhamdulliah
pada masa ini pemerintah kota Bekasi dan Indonesia pada umumnya sangat
memperhatikan UMKM. Ya akhirnya beliau dapat mengikuti berbagai pelatihan
dengan gratis. Dan prduknya pun sudah mendapatkan izin PIRT dan bersertifikat
halal.
Berbagai pelatihan beliau
ikuti terutama tentang boga. Menurutnya kalau buka usaha sendiri itu kita bisa
sesuaikan dengan ide dan keinginana kita. Walaupun memang kita harus lebih
bekerja keras lagi, karena kita sendiri.
Kita buat saja situasi
kerja yang enak saja dan dengan rekan kerja kita. Beliau merasakan, kalau di
sekolah itu sudah seperti saudara sendiri. Menurutnya yang namanya perselisihan atau beda
pendapat itu sudah pasti ada, tetapi ya harus segera diselesaikan.
Di dalam kegiatan tanya
jawab kelas belajar menulis, beliau menampilkan foto kegiatan pelepasan yang dilaksanakan
pagi sampai siang hari, yang tertunda dan baru dilaksanakan dengan sederhana.
Walau sudah pada jauh, hanya 3 anak yang
tidak datang. Menurutnya kerena, 1 sudah berada di Jawa Tengah, 1 tidak dapat izin dari pesantren, dan 1 karena ada yang
meninggal dunia saudaranya.
Sekolah beliau mulai
tahun 2003. Dimulai karena diajak bekerja sama oleh salah satu cabang
aritmatikanya. Tetapi kerja samanya hanya berjalan 3 (bulan), karena menurut
temannya malah membuat rugi, tidak ada untungnya. Menurutnnya setiap usaha baru
pasti banyak cobaannya.
Namun beliau tetap melanjutkan
perjalanannya mendirikan sekolah tersebut. Ahamdulliah dengan mendirikan sekolah
tersebut, beliau banyak berkenalan dengan orang dan banyak kegiatan membuat
beliau bisa berprestasi dan wawasannya menjadi bertambah luas lagi.
Menurut beliau,
sebenarnya kalau mengajar dan menjadi pengusaha itu, kalau usahanya sudah berjalan
sih sebenarnya bisa saja mengaturnya. Tetapi kalau salah satunya masih baru, ya
lumayan sibuk juga. Apa lagi kalau di situ banyak kegiatannya.
Ya harus bisa
membagi-bagi waktunya. Beliau mengalokasikan kalau jam mengajar, kegiatan yang lain
ditunda dahulu. Untuk jualan dan alat bayar, beliau masih menggunakan tunai dan
non tunai (trasfer).
Menurut beliau jadi
guru itu harus profesional. Jadi guru juga harus kaya. Karena kalau jadi guru
kaya, maka mengajarnya akan lebih totalitas. Walaupun beliau bukan PNS, jadi gajinya juga alhamdulliah.
Tapi beliau juga ingin lebih
dari itu. Karena awalnya beliau jadi pengusaha juga gara-gara menulis dan
dirasa menulis juga bisa menghasilkan uang. Cerita beliau, awalnya menjadi guru
yang keliling-keliling memberikan pelatihan bukunya sendiri. Jadi beliau memilih
kedua-duanya. Jadi guru dan pengusaha. Beliau berusaha arahnya tentang
kependidikan juga.
Pada foto kedua yang
beliau tampilkan, muncul sosok Mas Mentri Nadim Makarim. Ternyata Mas Mentri
adalah murid beliau di SD A-Izhar Pondok labu. Beliau mengajar di kelas 4 pada
waktu itu. Narasumber merasa minder di grup menulis ini. Karena beliau melihat
teman-teman bisa produktif menulis, sedangkan beliau hanya akan-akan saja.
Tetapi beliau sangat
antusias dalam kegiatan literasi. Suatu saat beliau pasti bisa santai dan
konsen untuk menulis. Beliau mempunyai 2 (dua) TBM (Taman Bacaan Masyarakat).
TBM Insan Kamil dan TBM Kartini Kreatif.
Dan beliau kebetulan pengurus juga.
Dari pertanyaan yang
diajukan, bahwa kegiatan yang beliau tekuni selama ini belum pernah beliau tulis
dan dijadikan buku. Tapi sebenarnya sudah beliau mulai tapi belum serius menulisnya
jadi tidak selesai-selesai. Kata beliau insya Allah beliau tetap jadikan buku
untuk kenang-kenangan dan bisa menginspirasi banyak orang.
Beliau memberikan
kiat-kiat sukses di antaranya :
- Harus
bekerja keras (usaha dengan sungguh-sungguh)
- Selalu
memohon ridhonya Allah.
- Mulai
dari hal-hal yang kecil
- Berani
- Harus
percaya diri yang tinggi
Motivasi beliau untuk
membuka kerja sampingan dengan buka cafe, awalnya sih beliau ingin membantu
merintis usaha dan bisa diwariskan ke anak. Lalu beliau juga mau berkegiatan di rumah.
Cafenya kebetulan di samping rumah. Jadi beliau dapat bertemu denga teman dan
banyak orang tanpa harus pergi-pergi.
Kalau cafenya kan berkolaborasi
sama anak. Dan kalau ada kegiatan yang harus dengan beliau biasanya hari Sabtu
dan Minggu.
Beliau awalnya tidak hobi
memasak. Kalaupun beliau memasak hanya yang wajib saja. Walaupun dulu ibunya mempunyai usaha catering, beiau hanya
membantu bagian administrasinya saja . Ide buka usaha itu karena beliau ingin pensiun
dari kegiatan keliling menjadi kegiatan di rumah.
Kalau untuk sekolah
beliau sudah punya team work yang baik. Kalau untuk kegiatan preunership masih
dalam tahap memulai kerja bareng. Dan sekarang juga usaha sedang harus kerja
keras dan lebih giat mencari cara terbaik. Walaupun beliau sibuk, hari Sabtu
dan Minggu masih mengajar.
Cara memulai buka usaha
dengan ikut pelatihan gratis karena kebetuan di Bekasi memang ada peatihan
untuk UMKM. Syaratnya punya SKU (Surat Keterangan Usaha). Seharusnya ada di
semua wilayah. Sekarang ini ada istiah UMKM naik kelas.
Menurut beliau antara
menulis dan boga sebenarnya dua-duanya bisa sulit dan bisa mudah, tergantung
kesungguhannya. Dulu karena beliau sungguh-sungguh menulis, mudah saja menjadi
buku. Sekarang sepertinya beliau kurang sungguh-sungguh karena banyak cabang
yang dipikirkan, jadi sulit buat beliau untuk menulis.
Dulu beliau tidak bisa membuat kue, sekarang
inginnya mencoba resep terus. Jadi banyak buat ini dan itu. Tergantung
kesungguhannya, kata beliau.
Menurut beliau jika ingin membuka usaha sampingan selain
mengajar yang peru disiapkan mental dahulu, kalau menunggu modal, yang ada ngak
jadi-jadi. Dan beliau rasa dan alami, enaknya dari modal kecil, seadanya dahulu.
Nanti akan membuat pondasi yang kuat.
Menurut beliau tips
untuk manajemen waktu yang baik agar tidak berbenturan antara tugas satu dengan
tugas yang lainnya antara mengajar, berwirausaha, aktif di kegiatan UMKM yaitu,
ya seharusnya diri kita yang tahu membaginya. Kalau saya prioritaskan yang utama baru yang lainnya.
Jadi yang paling dahulu diberesin itu urusan
dalam negeri (rumah), baru mengajar dan setelah itu usaha.
Sesungguhnya kita boleh
dan bisa saja mengerjakan pekerjaan beberapa sekigus, asalkan kita bisa mengaturnya dan enjoy melaksanakannya.
Ternyata Ibu Betti
Risnalenni merupakan narasumber yang sangat luar biasa. Sangat memotivasi dan
sangat menginspirasi sekali. Apa yang beliau telah sampaikan. Semoga kita dapat
mencontoh beliau. Beliau penulis, pengajar, wirausaha, dan aktif di kegiatan
UMKM ,sukses semuanya. Aamiin.
SELESAI
Comments
Post a Comment